JADWAL SHOLAT PANGKALPINANG DAN SEKITARNYA
Untuk jadwal sholat kota lain di Indonesia, silahkan pilih pada menu select pada tabel dibawah ini.
Desember 2020
(Kota Pangkalpinang GMT +7)
 << Kota  >> 
Tgl.ImsakSubuhTerbitDzuhurAsharMaghribIsya
0104:0804:1805:4111:4815:1417:5619:10
0204:0804:1805:4211:4915:1517:5619:11
0304:0804:1805:4211:4915:1517:5619:11
0404:0904:1905:4211:5015:1617:5719:12
0504:0904:1905:4311:5015:1617:5719:12
0604:0904:1905:4311:5115:1717:5819:13
0704:1004:2005:4411:5115:1717:5819:13
0804:1004:2005:4411:5115:1817:5919:14
0904:1004:2005:4511:5215:1817:5919:15
1004:1104:2105:4511:5215:1918:0019:15
1104:1104:2105:4511:5315:1918:0019:16
1204:1204:2205:4611:5315:2018:0119:16
1304:1204:2205:4611:5415:2018:0119:17
1404:1304:2305:4711:5415:2118:0219:17
1504:1304:2305:4711:5515:2118:0219:18
1604:1304:2305:4811:5515:2218:0319:18
1704:1404:2405:4811:5615:2318:0319:19
1804:1404:2405:4911:5615:2318:0419:19
1904:1504:2505:4911:5715:2418:0419:20
2004:1504:2505:5011:5715:2418:0519:20
2104:1604:2605:5011:5815:2518:0519:21
2204:1604:2605:5111:5815:2518:0619:21
2304:1704:2705:5111:5915:2618:0619:22
2404:1704:2705:5211:5915:2618:0719:22
2504:1804:2805:5212:0015:2718:0719:23
2604:1804:2805:5312:0015:2718:0819:23
2704:1904:2905:5312:0115:2818:0819:24
2804:2004:3005:5412:0115:2818:0919:24
2904:2004:3005:5412:0215:2818:0919:25
3004:2104:3105:5512:0215:2918:1019:25
3104:2104:3105:5512:0315:2918:1019:26
 :: Parameter / Arah Kiblat
Kota Pangkalpinang 2°8' LS 106°6' BT  
Arah : 293.97° ke Mekah
Jarak : 7660.592 Km ke Mekah
 :: Pilihan Fiqh
Penetapan Subuh20.0 deg. Kemiringan Matahari
Penetapan AsharPerbandingan bayangan 1.0 (Hanafi)
Penetapan Isya18.0 deg. Kemiringan Matahari
Penetapan Imsak10.0 min. Jarak Waktu dari Subuh
Penetapan IhtiyatSubuh:0' Dzuhur:0' Ashar:0' Maghrib:0' Isya:0'


Dalam penentuan jadwal sholat, data astronomi terpenting adalah posisi matahari dalam koordinat horizon, terutama ketinggian atau jarak zenit. Fenomena yang dicari kaitannya dengan posisi matahari adalah fajar (morning twilight), terbit, melintasi meridian, terbenam, dan senja (evening twilight). Dalam hal ini astronomi berperan menafsirkan fenomena yang disebutkan dalam dalil agama (Al-Qur'an dan hadits Nabi) menjadi posisi matahari. Sebenarnya penafsiran itu belum seragam, tetapi karena masyarakat telah sepakat menerima data astronomi sebagai acuan, kriterianya relatif mudah disatukan.

Didalam hadits disebutkan bahwa waktu subuh adalah sejak terbit fajar shidiq (sebenarnya) sampai terbitnya matahari. Di dalam Al-Quran secara tak langsung disebutkan sejak meredupnya bintang-bintang (Q.S. 50:40). Maka secara astronomi fajar shidiq difahami sebagai awal astronomical twilight (fajar astronomi), mulai munculnya cahaya di ufuk timur menjelang terbit matahari pada saat matahari berada pada kira-kira 18 derajat di bawah horizon (jarak zenit z = 108 derajat). Saaduddin Djambek mengambil pendapat bahwa fajar shidiq bila z = 110 derajat, yang juga digunakan oleh Badan Hisab dan Ru'yat Departemen Agama RI. Fajar shidiq itu disebabkan oleh hamburan cahaya matahari di atmosfer atas. Ini berbeda dengan apa yang disebut fajar kidzib (semu) - dalam istilah astronomi disebut cahaya zodiak - yang disebabkan oleh hamburan cahaya matahari oleh debu-debu antarplanet.

Waktu dzuhur adalah sejak matahari meninggalkan meridian, biasanya diambil sekitar 2 menit setelah tengah hari. Untuk keperluan praktis, waktu tengah hari cukup diambil waktu tengah antara matahari terbit dan terbenam.

Dalam penentuan waktu ashar, tidak ada kesepakatan karena fenomena yang dijadikan dasar pun tidak jelas. Dasar yang disebutkan di dalam hadits, Nabi SAW diajak sholat ashar oleh malaikat Jibril ketika panjang bayangan sama dengan tinggi benda sebenarnya dan pada keesokan harinya Nabi diajak pada saat panjang bayangan dua kali tinggi benda sebenarnya. Walaupun dari dalil itu dapat disimpulkan bahwa awal waktu ashar adalah sejak bayangan sama dengan tinggi benda sebenarnya, ini menimbulkan beberapa penafsiran karena fenomena seperti itu tidak bisa digeneralilasi sebab pada musim dingin hal itu bisa dicapai pada waktu dzuhur, bahkan mungkin tidak pernah terjadi karena bayangan selalu lebih panjang daripada tongkatnya. Ada yang berpendapat tanda masuk waktu ashar bila bayang-bayang tongkat panjangnya sama dengan panjang bayangan waktu tengah hari ditambah satu kali panjang tongkat sebenarnya dan pendapat lain menyatakan harus ditambah dua kali panjang tongkat sebenarnya. Pendapat yang memperhitungkan panjang bayangan pada waktu dzuhur atau mengambil dasar tambahannya dua kali panjang tongkat (di beberapa negara Eropa) dimaksudkan untuk mengatasi masalah panjang bayangan pada musim dingin. Badan Hisab dan Ru'yat Departemen Agama RI menggunakan rumusan:

panjang bayangan waktu ashar = bayangan waktu dzuhur + tinggi bendanya;
tan(za) = tan(zd) + 1.
Ada pendapat bahwa makna hadits itu dapat dipahami sebagai waktu pertengahan antara